Jumat, 04 Januari 2013

Cerita 1


                                                                 Aku Tunggu di Surga


Baru aku keluar dari kawasan pesantren Dar-Al-Karomah. Perasaan khawatir menyerang semua saraf-sarafku. Baru tadi Kiai memerintahku supaya keluar pesantren menyusul Nink Diva yang kabur dari dalem, aku tak tau karna apa Nink Diva pergi, yang pasti kiai dan bu’nyai sekarang sangat khawatir, mengingat dialah putri satu-satunya yang mereka miliki. Mudah-mudahan ini bukan sebab kejadian kemarin.
Sebenarnya aku malu menceritakan ini. Aku yang sekarang dalam masa berkhidmat kepada kiai, memaksaku harus mengenal keperibadian Nink Diva. Setiap hari tugasku yang keluar masuk dalem memenuhi apa-apa yang kiai perintah, itu tak terlepas dari kebersamaanku bersama Nink Diva, saat tak ada kesibukan dalem.
Aku teringat ketika Nink Diva baru memasuki masa pubernya, dia sering bertanya-tanya tentang cinta. Kini Nink Diva sudah remaja, dia sudah bisa mengambil keputusan sendiri untuk dirinya. Lambat laun perasaanku berubah ketika aku harus berhadapan dengan Nink Diva. Aku tau apa yang sedang terjadi padaku, aku tau kalo aku jatuh cinta pada Nink Diva, tapi apa ini perbuatan yang pantas di lakukan seorang santri yang mencintai putri kiainya sendiri, ketika dia diangkat menjadi khadamnya. Mulai sejak itu setiap aku bertugas di dalem, aku selalu menjaga jarak dengan Nink Diva setiap aku tak sengaja bertemu, aku selalu menghindar. Nink Diva sekarang bukan anak kecil lagi yang perlu di temani setiap saat, tapi semakin aku menghindar semakin Nink Diva mencariku, entah apa yang ia perlukan dariku.
Suatu hari, ketika aku dapat tugas menyapu dalem, tiba-tiba dari arah belakang Nink Diva memanggilku. “wahyu”. Aku kaget mendengar suara lembut itu, sekarang aku tak punya alasan untuk menghindar. “Enggeh Nink”. Aku jawab sekenanya. “yu aku pengen ngomong sesuatu” “ngomong aja Nink sepertinya penting banget” kucoba cairkan suasana. “kamu kok sekarang jarang nemenin aku” “hah… bukanya Nink sendiri yang jarang manggil aku” kutata sikap seperti biasanya, aku tak ingin Nink Diva tau atas kecanggunganku. Sebenaranya sekarang aku gugup menghadapinya. Bukankah orang yang benar-benar cinta itu adalah orang yang ketika di sebut nama kekasihnyan tubuhnya akan begetar, bayangkan sekarang yang tampil di hadapanku bukan hanya namanya saja, tapi orangnya, betapa menggigilnya tubuh ini “yu… biasanya kamu tanpa aku panggil sudah ngerti, dulukan aku pernah ngomong, kalo kamu gak sibuk, temenin aku” “memang kemarin-kemarin aku lagi sibuk Nink ” bohong…aku lihat, kamu sering ada di kamarmu, kenapa sih yu..kamu kok ngindarin aku?” aku lihat Nink Diva semakin serius “Nink maaf sebelumnya bukanya aku tidak mau nemaenin, tapi…” “tapi apa..” belum sempat aku lanjutkan perkataanku Nink Diva memotongnya “tapi… Nink Diva kan tau, kalo sekarang Nink Diva tu dah remaja dah besar, lebih baiknya Nink Diva cari temen dari santri putri aja” “jadi kamu udah gak mau nemenin aku yu?” “bukan begitu Nink” “yu kamu tau.. kamu itu tempat curhatku yang aku percaya, tak ada selain kamu, entah apa yang membuat aku percaya padamu, yu aku ingin tanya, boleh nggak wanita ngungkapin cinta duluan” aku bingung kenapa Nink diva bertanya seperti itu, tapi dari pada nggak jawab aku jawab sebisanya “ya menurut aku boleh-boleh aja Nink” “menurut kamu boleh nggak putri kiai jatuh cinta?” “kenapa tidak…putri kiai kan juga manusia…iiih.. Nink falling in love ya” biar nggak terlalu tegang aku coba goda Nink Diva. “terus kalo aku jatuh cinta padamu boleh nggak yu…?” Duaaarr…hatiku setengah meledak, aku tak menyangka Nink Diva berkata seperti itu, dia lebih berani dariku, hatiku berdetak tak teratur, aku bingung mau jawab apa, sebab ini hal yang selalu aku harapkan, tapi untuk saat ini tak aku inginkan “Nink udah deh jangan bercanda” “yu…aku serius” Nink diva tampak berharap, sepertinya dia bener serius “Nink…inilah alasanku mengapa selama ini aku jarang nemenin Nink Diva, aku takut diantara kita timbul fitnah. Nink tau. Nink sekarang udah besar. Nink udah bisa mikirin diri Nink sendiri. Nink harus bersikap dewasa. Demi kesucian pesantren, lupakan cinta itu Nink. Aku hanya seorang santri yang menjadi pelayan kiai. Kiai yang aku harus hormati dan patuhi termasuk Nink sebagai putrinya” suaraku memecah keheningan. Nink Diva diam, dia hanya melihatku. Aku lihat sepertinya tersirat rasa kekecewaan di wajahnya, setelah itu Nink Diva pergi. Sempat aku lihat Nink Diva menyeka air matanya
Menit mengganti detik, derap jam pun menyapu menit, kini waktu terus berlalu. Tiga hari setelah kejadian itu, aku belum melihat Nink Diva. Hatiku gundah, apa memang Nink Diva mengerti dengan maksud perkataanku, atau Nink Diva kecewa padaku sehingga dia tak mau bertemu dengaku.
Aku mulai khawatir, aku takut Nink Diva menutup diri sebab kejadian kemarin. Akhirnya aku beranikan diri bertanya kepada Bu’ nyai “nyai Nink Diva kok gak pernah kelihatan ya..?” “mbo Nink Diva iku le’ wes pore’ yo ngono iku gak metu2 teko kamare”  dalam bahasa jawa Bu’nyai menjawab pertanyanku. Sepertinya Nink Diva memang di rundung masalah. Sumpah saat ini aku rindu ingin bertemu Nink Diva. Aku kangen senyumnya, aku kangen canda tawanya.
Hari demi hari terus terlalui, sikap Nink Diva tak berubah dia tetap mengurung diri. Hingga suatu hari saat aku baru selesai sholat isa’, kiai dan Bu Nyai tiba-tiba memanggilku, beliau memberitahuku, kalo Nink Diva keluar dari dalem, dia keluar tanpa sepengetahuan Kiai dan Bu’nyai. “wahyu kamu tau kenapa Nink Diva pergi ?” Bu’ Nyai membuka pembicaraan ketika Kiai baru keluar dari ruang tengah lalu duduk di sofa di sebelah Bu’ Nyai. “tidak tahu Nyai” Aku menjawabnya “sebernanya apa yang terjadi dengan kamu dan Nink Diva” Kiai angkat bicara seakan beliau tau tentang masalahku dengan Nink Diva. Aku pun hanya menggelengkan kepala tak mampu menjawab pertanyaan Kiai. “wahyu semenjak kamu jarang nemenin Nink Diva, dia jadi suka menyendiri hingga puncaknya, sekarang dia keluar dari dalem, apa ini ada hubunganya dengan kamu yu” Bu’Nyai menghantamku dengan beberapa pertanyaan. Aku terpojok, akhirnya aku ceritakan semua yang terjadi. Mulai dari Nink Diva yang mengatakan cintanya itu  dan alasanku kenapa aku  tak mau menemani Nink Diva. “aku sudah mengira semua itu. Nink Diva sejak kecil mengagumi mu yu” Bu’ Nyai memberi komentar. “apa kau mencintainya Wahyu ?” tiba-tiba pertanyaan kiai menyergapku. Aku hanya tergagap tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku tak bisa mengatakan cinta ini di depan kiai dan Bu’ Nyai. Mungkin ini yang di katakan cinta sesungguhnya, sebab aku tak bisa mengatakan cinta ini kepada orang lain. “Wahyu aku maklumi kalo kalian sudah di landa cinta toh itu sudah tabi’at manusia al-qur’an pun sudah menjelaskan hal itu.” Kiai memberi keterangan, aku hanya manggut-manggut mendengarkanya dan merasa dapat dukungan. Kiai pun terus melanjutkan pembicaraanya. “lagi pula Nink Diva sekarang sudah umur tujuh belas tahun. Kemerin aja ada putra kiai yang mau mengkhitbahnya” aku kuaget mendengar itu, dunia seakan berhenti di hadpanku, “tapi aku tak mau terburu-buru menerimanya”, aku juga perlu berunding dengan Nink Diva” kiai melanjutkan, dunia seakan berputar lagi mendengarnya hehe. “tapi jika kamu mau mengkhitbahnya sekarang, saya pribadi dan Bu’ Nyai sangat setuju wahyu” duaaar “sa sa sa say saya Kiai?” refleks kapalaku terangkat dan memastikan bahwa pernyataan itu untukku, aku gugup, sadarkah kah aku, apa aku bermimpi, aku coba cubit tanganku ternyata sakit, ini memang bukan mimpi. “Iya kamu wahyu” Bu’ Nyai menjawab “apa yang akan kamu berikan sebagai maharnya wahyu” kiai terus mengejarku dengan pertanyaan “tak ada kiai Cuma sisa uang saku seratus ribu kiai” aku tak tau apa yang terjadi, mulutku seakan bicara sendiri mendukungku. “ya udah sekarang langsung akad, sini mendekatlah padaku wahyu” rembulan seakan mengintip apa yang terjadi malam itu. Suara jangkrik seakan terus menyorakkan yel-yelnya, tahu kalo aku telah menang, setelah melafadkan kalimat istighfar dan dua syahadat kiai mulai membaca sighot akad “ya wahyu bin hasan zawwajtuka wa ankahtuka binti ainun nadivah bimahri alf mi’ah rubiah indunisiah” aku pun menjawab “qobiltu tazwijaha wa nikahaha bil mahril madzkur” “gimana sah?” kiai bertanya kepada dua santri putra yang menjadi saksi, bersama dengan Bu’ Nyai mereka serempak menjawab sah “alhamdulillah” setelah membaca hamdalah, kiai langsung membaca do’a
 Setelah itu Aku pun di perintah oleh kiai untuk menyusul Nink Diva. Menurut informasi yang ada, dari alumni yang menghubungi Kiai, katanya Nink Diva ada di alun2 kota bangil.
Setelah dapat perintah, aku langsung meluncur ke tujuan, untuk memudahkan perjalananku, kiai menyuruhku memakai sepeda motor dalem, yang biasa aku kendarai,
Dari sinilah, ketika di perjalanan, aku coba terka apa penyebab Nink Diva berbuat seperti itu. Mungkinkah karna kejadian itu, atau mungkin Nink Diva kecewa padaku, oh,,,semua pertanyaan mengiringi kekhawatiranku, aku takut memang benar-benar karna diriku.
Baru aku masuk kota bangil. Terasa malam ini cuaca sangat cerah, tapi desiran-desiran angin mengiringi sendunya perjalananku menyusul cinta suciku. Aku telusuri jalan seberang alun-alun, aku edarkan pandanganku, tapi sosok yang aku cari belum terlihat. Aku putuskan untuk memarkir motor di halaman masjid, dan aku coba saja mencari Nink Diva ke dalam alun-alun dengan berjalan kaki. Itung-itung sambil nostalgia mengingat kenangan-kenangan indah bersama teman-teman. Dulu aku sering kesini, setiap malming tak pernah aku lewatkan, tamapknya sudut barat alun-alun agak di perlebar, ini merubah suasana alun-alun yang tak seperti dulu lagi.
Aku langkahkan kaki lebih masuk ke dalam, aku lirik jam tanganku, ternyata sudah jam sembilan lebih tiga puluh menit. Aura desiran angin malam menembus bajuku, hingga permukaan kulitku dapat merasakan sayup-sayup kedinginanya, ternyata bukan aku saja yang merasakan pekatnya malam ini. Tampak disana, pohon beringin yang berada di tengah alun-alun, membiarkan dedaunanya bermain-main dengan terpaan angin malam, seolah-seolah dia  memanggilku memberitahu akan keberadaan orang yang aku cari, cintaku, Nink Diva. Tapi masak iya aku kesini karna cinta, ikhlaskah diriku. Aku sadar niatku salah, seharusnya niatku kesini karna untuk patuh pada perintah kiai atau mertua hehe. Aku coba mantapkan dalam hati menata niat yang sejak tadi sudah amburadul.
Aku biarkan kaki ini melangkah kemana ia mau. Entah apa yang membuat batin ini ingin sejenak singgah di pohon beringing tengah alun-alun itu, aku ingin duduk di pagarnya sekedar melihat bintang gemintang yang seakan terus mengawasiku.
Jarak lima meter dari pohon beringin. Aku hentikan langkahku, aku terpaku, melihat wanita yang duduk di pagar beringin itu. Sepertinya dia santri, pakeanya sopan. Tampak jelas atribut santri yang dia kenakan, tapi sayang jilbabnya ia biarkan mengalung di lehernya, membiarkan rambutnya tergerai, mengikuti alunan sahdu angin malam. Aku amati ia dari samping, tak sebegitu jelas raut wajahnya, tapi dia terlihat sangat anggun, hingga tanpa aku sadari tatapanya beralih kepadaku. “wahyu !?” aku terkesiap mendengar suara itu, suara lembut itu sepertinya sudah tidak asing lagi. Aku amati lekat-lekat wajahnya. “loh…Nink Diva !!” sadar yang berdiri itu aku. Nink Diva refleks membenarkan letak jilbabnya yang tadi terbuka. Aku sempat tertawa kecil, baru kali ini aku pergoki Nink Diva gak pakek jilbab..”wihc cantiknya”.
Aku hampiri dia, aku lihat Nink Dva memalingkan muka dariku, muingkin dia malu. “Nink keluar kok gak pamit ke kiai dan bu’nyai, mereka khawatir lo…!!” aku bukak pembicaraan dengan menata sikap seenjoy mungkin di depan Nink diva. “yu kenapa kamu jemput aku, kamu sendirikan yang ngomong, kalo aku udah besar, aku udah gak butuh bantuan orang lain” aku tau kemana arah maksud perkataan Nink Diva “Nink Diva masih marah ya soal kemarin itu, maaf Nink ?” “jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi, aku benci sama kamu yu..!” Nink Diva beranjak dari duduknya, Tanpa di kontak tiba-tiba tanganku meraih tangan Nink Diva untuk menahannya pergi. Masih tak aku lepaskan peganganku, saat aku rasakan beribu-ribu volt setruman hangat menjalar keseluruh tubuhku, aku lihat Nink Diva, kita berdua saling pandang, pipi Nink Diva tampak memerah mungkin ini yang di sebut dengan malu-malu kucing. Nink Diva menarik tanganya dari peganganku “apa sih yu…kayak senetron aja” Nink Diva tak berani melihatku sepertinya dia benar-benar tersipu “ngapunten Nink… gak sengaja “ “tau akh,,,kamu kesini naik apa ?” sikap Nink Diva mulai melunak “naik motor Nink, pulang yuk Nink, udah malem nih” “berdua ?” “lah iya tho Nink, masak sama jin” kita berdua mulai berjalan sejajar menuju tempat parkir. Ingin aku gandeng tangan Nink Diva. tapi isin Aku. “boncengan yu” “yalah ..boncengan Nink” “wah…yu bukan mahromnya hehe aku tertawa kecil dan berkata dalam hati, “Nink seandainya kau sudah tau kalo kita sudah semahrom pasti akan pingsan”…iya juga ya Nink, tapi mau tah Nink Diva pulang jalan kaki” “ya naik angkot yu” “malem-malem gini mana ada angkot” “hah udah gak ada ya,,,!!! Ya udah deh pulang sama kamu yu, mana motornya” “itu” aku tunjuk motor yang berada di halaman masjid, ketika kita sudah berada di seberang jalan “yu aku haus” “mau beli es tah Nink” iya kamu bawa uang “ “ya nih ada, tunggu disini Nink.
Kuberanjak ninggalin Nink Diva, menghampiri pedagang es buah yang tak jauh dari kami, ketika itu, saat aku hampir sampai ke pedagang es buah itu. Tiba-tiba pedagang itu berteriak “awas..!! mbak ada mobil” spontan aku menoleh kearah belakang. Sebuah mobil sedan silver melaju agak kencang, ketika aku mulai sadar yang berdiri di tengah jalan itu Nink Diva. Tanpa pikir panjang, aku berlari menyebrang menyelamatkan Nink Diva. Tak kupedulikan teriakan orang-orang yang mengingatkanku, “Nink Awaasss” aku berteriak sambil berlari ke arahnya, Nink Diva menoleh dan cepat berlari ke tepi jalan. Namun “bruuaaks” tubuhku terpental sejauh lima meter. Masih sempat kudengar teriakan histeris dari Nink Diva dan orang-orang yang ada di sekitarku ketika sedan berwarna silver itu menabrak tubuhku. Orang-orang berhamburan ke arahku termasuk Nink Dva. Mereka mengagngkat tubuhku ke sedan yang tadi menabrakku, membawaku ke rumah sakit terdekat. Nink Diva ikut dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia memangkuku, air mata Nink Diva mulai sembab, ingin aku menyeka air matanya, tapi tubuhku tak bisa aku gerakan, mataku pun tak bisa sempurna aku buka. Aku terbaring lemah tak berdaya di pangkuan Nink Diva, “yu…yang kuat kita hampir sampai” terdengar suara Nink Diva tersendat-tersendat.
Nink Diva mulai panik ketika darah segar mulai keluar dari hidung dan mulutku “pak bisa cepat sedikit nggak” dia membentak supir sedan itu, tubuhku mulai menggigil, Nink Diva mulai panik, dia memelukku “ yu..kamu nggak akan ninggalin aku kan ?” “bangun Yu” “kamu sudah janji ke abah untuk membawa aku pulang” “jawab aku yu” “ya Allah,,,, Wahyuuu” Nink Diva semakin erat memelukku, aku dengar tangis kepedihan itu. Air mata Nink Diva mulai membanjiri pipi manisnya. Aku tak kuat menahan sakit ini, aku lihat nink diva. “Nink bagiku di dunia kau sudah halal, tapi jika kita harus berpisah, dan jika cinta ini mendapat ridho-Nya, maka akan aku tunggu kau di surga” Ingin aku katakan kata itu dan ingin aku ceritakan bahwa aku sudah mengkhitbahnya, tapi mulutku sudah tak kuat lagi untuk berkata, Hingga saat itu aku melihat seseorang yang berbaju putih dan memakai surban putih. Tubuhnya tampak bersinar, aku lihat teduh wajahnya, ia amat berwibawa, ia mengulurkan tanganya, aku genggam tangan itu. Saat itu kudengar dia membaca kalimat لا اله إلا الله , aku tirukan kalimat itu, dan ia membawaku terbang. Jauh, jauh meninggalkan NinK Diva yang memelukku.

Minggu, 18 November 2012

Lahirnya Demokrasi Terpemimpin



Dalam sejarah Indonesia, masa Demokrasi Terpimpin merupakan suatu periode yang cukup penting karena penerapan sistem ini membawa pengaruh yang besar dalam segala segi kehidupan bangsa Indonesia. Mengenai kelahiran sistem ini, sebenarnya sudah dilontarkan oleh Presiden Soekarno sejak tahun 1956. Dan sejak tahun 1957 Presiden Soekarno mengemukakannya secara formal dengan mengusulkan pembentukan kabinet Gotong Royong dan pembentukan Dewan Nasional.
Dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Soekarno menyatakan konstitusi 1950 tak berlaku lagi dan memberlakukan kembali UUD 1945. Sistem pemerintahan presidensial ini dipandang sebagai alternatif yang sesuai di Indonesia bila dibandingkan dengan sistem Demokrasi Liberal yang merupakan impor, dan dipandang sebagai upaya kembali kepada semangat revolusi nasional.1)
Dengan berlakunya kembali UUD 1945, Presiden Soekarno langsung memimpin pemerintahan dan bertindak sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan (Perdana Menteri) serta membentuk Kabinet Kerja  yang menteri-menterinya tidak terikat kepada partai.2)
Konsepsi Presiden Soekarno ini didasarkan pada penafsiran “terpimpin” dari isi pembukaan UUD 1945, tepatnya sila keempat Pancasila yang berbunyi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, dimana “terpimpin” diartikan sebagai terpimpin secara mutlak oleh diri pribadinya dan menciptakan atribut “Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang“, sehingga Presiden menjadi penguasa tertinggi dan mutlak di dalam negara.3)
Di dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa presiden adalah mandataris MPR, dengan demikian, presiden berada dibawah MPR. Namun dalam kenyataannya anggota MPR (S) diangkat berdasarkan penetapan presiden. Presidenlah yang harus menentukan apa saja yang akan diputuskan MPR (S). Hal ini berarti bahwa UUD 1945 tidak dilaksanakan secara murni dan konsekuen. Sebagai akibatnya, terjadi ketidakstabilan kehidupan ketatanegaraan terutama dalam bidang politik. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa tindakan Soekarno yang otoriter seperti menetapkan Manipol (Manifesto Politik) sebagai GBHN (Pen-Pres no. 1 tahun 1960), pembubaran DPR hasil Pemilu (Pen-Pres no. 3 tahun 1960, pembentukan DPR Gotong Royong untuk mengganti DPR hasil Pemilu yang dibubarkan (Pen-Pres no 4 tahun 1960 ). Begitu pula dalam penggantian ketua,wakil dan anggota, wakil dan anggota DPR-GR, Presiden Soekarno Pen-Pres tanpa meminta persetujuan lembaga legislatif yang ada, tetapi menurut keinginan Soekarno sendiri”.4)
Tindakan Presiden Soekarno yang inkonstitusional ini menimbulkan perpecahan dalam negeri, terutama dengan angkatan bersenjata di bawah Nasution. Selain dengan Nasution, Soekarno memandang Masyumi dan PSI sebagai penghalang kebijaksanaan yang akan diambilnya, apalagi dikaitkan dengan pemberontakan PRRI/Permesta, di mana menurut Soekarno; militer, Masyumi dan PSI terlalu lemah dalam menangani masalah PRRI tersebut.
Kini Indonesia bergerak menuju radikalisme yang akan memberi peluang kepada PKI untuk berkembang walaupun walaupun masih menghadapi permusuhan dengan pihak tentara. Tersisihnya tentara di dalam pandangan Soekarno dan semakin dekatnya PKI merupakan gambaran inti kehidupan atau suasana politik masa awal demokrasi terpimpin yang dalam beberapa tulisan Soekarno dicap sebagai diktator. Namun oleh beberapa sejarawan menolak anggapan tersebut, seperti pendapat Prof. Legge (guru besar sejarah dari Universitas Monash, Melbourne) yang dikutip oleh Moedjanto yakni sebagai berikut:
Betapapun juga besarnya kekuasaan Soekarno tetapi pemusatan kekuasaan secara riil tidak ada padanya. Yang nampak justru pembagian kekuasaan dengan kekuatan sosial politik lain meskipun tidak secara koinstitusional. ia tidak mengambil keputusan secara egosentris tetapi bermusyawarah dulu meski ia yang paling menentukan. Seorang dikataor membrangus pers dan memenjarakan lawan politiknya dalam suatu kamp konsentrasi adalah hal biasa. Tetapi di jaman Soekarno pembrangusan pers dan pemenjaraan lawan politiknya hanya merupakan suatu kekecualian, tidak merupakan hal yang umum”5)
Meski diakui bahwa situasi politik pada masa awal demokrasi terpimpin tidak stabil namun untuk mengatakan bahwa Soekarno seorang diktator diperlukan penelaahan yang lebih mendalam. Namun dapat disimpulkan bahwa tindakan Soekarno dalam menerapkan Demokrasi menimbulkan pro dan kontra, begitu juga penilaian terhadap tindakannya.

Konferensi Meja Bundar (KMB)



Konferensi Meja Bundar (KMB) merupakan sebuah perundingan tindak lanjut dari semuaperundingan yang telah ada. KMB dilaksanakan pada 23 Agustus 1949 sampai 2November 1949 di Den Haag, Belanda. Perundingan ini dilakukan untuk meredam segalabentuk kekerasan yang dilakukan oleh Belanda yang berujung kegagalan pada pihakBelanda. KMB adalah sebuah titik terang bagi bangsa Indonesia untuk memperolehpengakuan kedaulatan dari Belanda, menyelesaikan sengketa antara Indonesia-Belanda,dan berusaha menjadi negara yang merdeka dari para penjajah.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9LVqOoNuu7qzfaB3Uy5PND1pshDYkdyiD_mR09_qdN3Fx7Kzm7Z2NE7k-Pq849w7go2EGGpoQEtE7-VeFI-zloAUstf9Mir9wwt-6-FIlxlvzbFCwNb3_l8tU_HBww23yJvJyy8prKMc/s320/KMB.jpg
Suasana KMB

Konferensi Meja Bundar diikuti oleh perwakilan dari Indonesia, Belanda, danperwakilan badan yang mengurusi sengketa antara Indonesia-Belanda. Berikut ini paradelegasi yang hadir dalam KMB:
a. Indonesia terdiri dari Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh. Roem, Prof.Dr. Mr. Soepomo.
b. BFO dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak.
c. Belanda diwakili Mr. van Maarseveen.
d. UNCI diwakili oleh Chritchley.

Setelah melakukan perundingan cukup lama, maka diperoleh hasil dari konferensi
tersebut. Berikut merupakan hasil KMB:
a. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
b. Pengakuan kedaulatan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.
c. Masalah Irian
Barat akan diadakan perundingan lagi dalam waktu 1 tahun setelah pengakuan kedaulatan RIS.
d. Antara RIS dan Kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia Belanda yang dikepalai Raja Belanda.
e. Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik dari Indonesia dengan catatan beberapa korvet akan diserahkan kepada RIS.
f. Tentara Kerajaan Belanda selekas mungkin ditarik mundur, sedang TentaraKerajaan Hindia Belanda (KNIL) akan dibubarkan dengan catatan bahwa paraanggotanya yang diperlukan akan dimasukkan dalam kesatuan TNI.

Konferensi Meja Bundar memberikan dampak yang cukup menggembirakan bagibangsa Indonesia. Karena sebagian besar hasil dari KMB berpihak pada bangsa Indonesia,sehingga dampak positif pun diperoleh Indonesia. Berikut merupakan dampak dari Konferensi Meja Bundar bagi Indonesia:
a. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.
b. Konflik dengan Belanda dapat diakhiri dan pembangunan segera dapat dimulai.
c. Irian Barat belum bisa diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat.
d. Bentuk negara serikat tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Selain dampak positif, Indonesia juga memperoleh dampak negatif, yaitu belum diakuinya Irian Barat sebagai bagian dari Indonesia. Sehingga Indonesia masih berusaha untuk memperoleh pengakuan bahwa Irian Barat merupakan bagian dari NKRI.

Perjuangan Merebut Kembali Irian Barat



Wilayah Irian Barat adalah wilayah yang tidak bisa dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun , sampai peristiwa pengakuan kedaulata dari Belanda kepada Indonesia, Irian Barat masih dikuasai Belanda. Oleh karena itu pula diperjuangkan pembebasannya.
Perjuangan Pembebasan Irian Barat jika diklasifikasikan ada dua strategi, yaitu secara diplomasi dan perjuangan bersenjata.

A. Perjuangan Diplomasi :
1. Upaya Perundingan dengan Belanda
Menurut ketentuan Konferensi Meja Bundar ( KMB ), masalah Irian Barat ditunda penyelesaiannya setahun kemudian. Oleh karena itu, pada waktu berlangsung upacara pengakuan kedaulatan, wilayah Irian barat tidak termasuk sebagai daerah RIS.
Berdasarkan keputusan KMB, semestinya pada akhir tahun 1950 sudah ada upaya Belanda untuk mengembalikan Irian Barat kepada pihak Indonesia. Akan tetapi, tampaknya keputusan KMB yang berkaitan dengan Irian Barat tidak berjalan lancar. Belanda tampak ingin tetap mempertahankan Irian Barat. Oleh karena itulah, Indonesia berusaha mengembalikan Irian Barat melalui upaya diplomasi dan berunding langsung dengan Belanda.
Beberapa kabinet pada masa demokrasi liberal juga memiliki program pengembalian Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia. Setiap kabinet mencoba melakukan perundingan dengan Belanda. Perundingan itu misalnya pada masa Kabinet Natsir, Sukiman, Ali Sastroamidjojo dan Burhanuddin Harahap. Bahkan pada masa Kabinet Burhanudin Harahap diadakan pertemuan antara Menteri Luar Negeri Anak Agung dan Luns di Den Haag. Akan tetapiperundingan-perundingan itu tidak berhasil mengembalikan Irian Barat.

2. Upaya Diplomasi melalui PBB
Sejak tahun 1953 usaha melalui forum PBB dilakukan oleh Indonesia. Masalah Irian barat setiap tahun selalu diusulkan untuk dibahas dalam Sidang Umum PBB. Sampai dengan Desember 1957, usaha malalui forum PBB itu juga tidak berhasil. Sebabnya dalam pemungutan suara, pendukung Indonesia tidak mancapai 2/3 jumlah suara di Sidang Umum PBB.

3. Pembentukan Pemerintahan Sementara
Perjuangan pembebasan Irian Barat juga ditempuh melalui politik dalam negeri. Bertepatan dengan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke- 11, tanggal 17 Agustus 1956, Kabinet Ali Sastroamijoyo membentuk Pemerintahan Sementara Irian Barat. Tujuan pembentukan pemerintahan sementara dalam hal ini adalah pernyataan pembentukan Propinsi Irian Barat sebagai bagian dari RI.
Propinsi Irian Barat yang terbentuk itu meliputi wilayah Irian yang masih diduduki Belanda ditambah daerah Tidore, Oba, Patani dan Wasile di Maluku Utara. Pusat pemerintahan Propinsi Irian Barat berada di Soasiu, Tidore Maluku. Sebagai Gubernurnya Sultan Zaenal Abidin Syah ( Sultan Tidore ). Pelantikannya dilangsungkan tanggal 23 September 1956.
Akibat dari pembentukan pemerintahan sementara Propinsi Irian Barat, antara lain Belanda makin terdesak secara politis. Selain itu Belanda menyadari bahwa Irian barat merupakan bagian Indonesia yang berdaulat.

4. Pemogokan dan Nasionalisasi Berbagai Perusahaan
Selain melalui bidang politik usaha perjuangan untuk membebaskan Irian Barat juga dilancarkan melalui bidang sosial ekonomi. Pada waktu perjuangan pengembalian Irian Barat melalui Sidang Umum PBB pada tahun 1957, Menteri Luar Negeri Indonesia, Subandrio menyatakan akan menempuh jalan lain. Jalan lain yang dimaksud Subandrio memang bukan senjata tetapi berupa konfrontasi ekonomi.
Tanggal 18 Nopember 1957 diadakan gerakan pembebasan Irian Barat dengan melakukan rapat umum di Jakarta. Rapat umum itu diikuti dengan pemogokan total oleh kaum buruh yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda pada tanggal 2 Desember 1957.
Setelah itu terjadilah serentetatn pengambilalihan ( nasionalisasi ) modal dan berbagai perusahaan milik Belanda. Pengambilalihan tersebut semula dilakukan spontan oleh rakyat. Akan tetapi, kemudian diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1958. Beberapa contoh perusahaan yang diambilalih oleh Indonesia, antara lain :


a. Perbankan seperti Nederlance Handel Maat schappij (namanya kemudian menjadi Bank Dagang Negara)
b. Perkapalan
c. Perusahaan Listrik Philips
d. Beberapa perusahaan perkebunan
Untuk meningkatkan gerakan dan memperkuat persatuan rakyat Indonesia tanggal 10 Februari 1958 permerintah membentuk Front Nasional Pembebasas Irian Barat


B. Perjuangan dengan Konfrontasi Bersenjata
Secara politik Irian Barat belum berhasil,untuk itu Indonesia mencari alternatif lain, yakni perjuangan dengan konfrontasi bersenjata. Apa saja yang dimaksud dengan perjuangan bersenjata itu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita dapat menelaah uraian berikut ini.


1. Perjuangan Melalui Trikora
Berbagai cara dan usaha Indonesia untuk membebaskan Irian Barat belum menunjukan hasil yang nyata. Belanda makin bersikap keras dan tidak mau mengalah. Bahkan, Belanda kemudian menyatakan bahwa Irian Barat merupakan wilayah Belanda sebagai bagian dari Nederlands. Oleh belanda, Irian Barat disebut dengan Nederlans-Nieuw Gunea.Menghadapai kenyataan bahwa berbagai cara yang ditempuh belum berhasil maka Indonesia maningkatkan konfrontasi di segala bidang. Tanggal 17 Agustus 1960 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan belanda.
Perjuangan pembebesan Irian Barat selanjutnya diarahkan dengan cara militer.Untuk menghadapi komfrontasi, pemerintahan melakukan perjanjian pembelian senjata dari luar negeri, seperti dengan Uni soviet. Selain itu, Indonesia juga mencari dukungan dengan negara-negara lain.
Melihat aksi Indonesia,Belanda tidak tinggal diam, Bulan April 1961 Belanda membentuk Dewan Papua. Dewan ini akan menyelenggarakan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Irian Barat. Bahkan lebih lanjut, Belanda menunjukkan keberanian dan kekuatannya dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Membentuk Negara Boneka Papuadengan lagu dan bendera Papua.
b. Mendatangkan bantuan dan mengirimkan pasukan dengan kapal perangnya ke perairan Irian, antara lain kapal Karel Doorman.
c. memperkuat angkatan perang Belanda di Irian Barat.
Dengan kenyataan itu, perjuangan pembebasan Irian Barat secara militer tampaknya tidak mungkin dihindarkan.
Tanggal 19 Desember 1961 melalui rapat umum di Yogyakarta, Presiden Soekarno Mencanangkan TRIKORA (Tri Komanda Rakayat),dan berikut isi TRIKORA :
a. Gagalkan pembentukan Negara papua
b. Kibarkan Sang merah putih di Irian Barat.
c. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah air.


2.Operasi Militer dibawah Komando MandalaSebagai tindak lanjut program TRIKORA,Presiden Soekarno membentuk Mandala pembebasan Irian Barat. Yang dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962 yang dipimpin oleh Mayor Jendral Suharto.Pusat dari komanda mandala berada di Ujungpandanguntuk melaksanan Trikora.
Untuk melaksanakan tugas itu,Komando Mandala melakuakan langkah-langkah berikut:
a. merencanakan,mempersiapkan dan melaksanakn operasi militer
b. mengembangkan situasi militer di wilayah Provinsi Irian Barat
Dalam rangka mempersiapkan operasi militer. Komando Mandala telah tahapan perjuangan.Pada bulan Maret sampai Agustus 1962 telah dimulai pendaratan pasukan ABRI dan sukarelawan dari laut & udara,dengan mendaratkan pasukan ditempatnya,misalnya:
a. Operasi Banteng di Fak-Fak Dan Kaimana
b. Operasi Srigala di Sorong dan Teminabiuan
c. Operasi Naga di Merauke
d. Operasi Jatayu di Sorong,Kaimana,dan Merauke


Pada tahapan persiapan dan infiltrasi telah terjadi insiden pertempuran di Laut Aru pada tanggal 15 Januari 1962.Pada waktu itu kapal RI motor terpedo boat Macan Tutul yang sedang patroli diserang oleh Belanda.Terjadilah pertempuran akan tetapi kapal RI Macan Tutul terbakar dan tenggelam.Dalam insiden ini meniggalah Komodor Yos Sudarso dan Kapten Laut Wiratno
Gerakan infiltrasi terus dilakukan.Pasukan mulai mendarat dan menguasai beberapa daerah di Irian Barat. Berikut para sukarelawan dan sukarelawati. Bendera merah putih mulai dipancangkan di berbagai daerah.


3. Rencana BunkerMelihat pasukan Indonesia itu, Belanda mulai khawatir dan kewalahan. Dunia Internasional mangetahui dan mulai khawatir Amerika serikat mulai menekan Belanda agar mau beruding. Ellswoth Bunker, seorang diplomat AS ditunjuk sebagai penengah. Bunker selanjutnya mengusulka pokok-pokok penyalsaia masalah Irian Barat secara damai. Poko-poko usulan Bunker itu,antara lain berisi sebagai berikut.
a. Belanda akan menyarahkan Irian Barat kepada Idonesia melalui badan PBB, yAkni UNTEA(United Nations Temporary Executive Authority)
b. Pemberian hak bagi rakyat Irian Barat untuk menetukan pendapat tentang kedudukan Irian Barat.

pokok tersebt dikenal dengan Rencana Bunker.Berdasarkan Rencana tersebut maka pada tanggal 15 Agustus 1962 tercapailah persetujuan antara indonesia dan belanda yang dikenal dengan Persetujuan New York
Adapun isi Perjanjian New York, antara lain:
a. Belanda harus sudah menyerahkan Irian Barat kepada UNTEA selambat-selambatnya 1 Oktober 1962.Bendera Belanda diganti dengan bendera PBB
b. Pasukan Yang sudah ada di Irian Barat tetap tinggal di Irian Barat dan dibawah kekuasaan UNTEA
c. Angkatan perang Belanda berangsur-angsur ditarik dan dikembalikan ke negeri Belanda.
d. Bendera Indonesia malai berkibar di Irian Barat disamping bendera PBB sejak tanggal 31 Desember 1962
e. Pemerintah RI akan menerima pemerintahan Irian Barat dari UNTEA selambat-lambatnya tanggal 1 Mei 1963


4. Akhir Konfrotasi Irian Barat Dan Papua
Setelah perundingan di New York,datanglah pemerintah untuk tembak-menembak antara kedua pihak.Dengan demikian Operasi Jayawijwya batal dilancarkan.
Sebagai pelaksanaan isi perjanjian new york secara resmi belanda menyerahkan irian baratkepada UNTEA. Pada tanggal 1 mei 1963 PBB menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Penyerahan Itu dengan syarat pemerintah Indonesia mengadakan pungutan pendapat rakyat. Dengan damikian, Berakhiralah kekuasaan Belanda di Indonesia.Dan kemudian Irian Barat diganti menjadi menjadi Irian Jaya dan bergabung dengan Republik Indonesia